Read more: http://www.uzumaki-popey.com/2013/01/cara-membuat-blog-agar-tidak-bisa-di.html#ixzz2QmnmosON

Rabu, 27 Maret 2013

ASKEP HISPRUNG (MEGAKOLON)


Askep Hisprung

A.       Definisi Hirschprung
Penyakit Hirschsprung atau Mega Kolon adalah kelainan bawaan penyebab gangguan pasase usus tersering pada neonatus, dan kebanyakan terjadi pada bayi aterm dengan berat lahir 3 Kg, lebih banyak laki – laki dari pada perempuan.  (Arief Mansjoeer : 2000 ).
Hirschsprung atau Mega Colon adalah penyakit yang tidak adanya sel – sel ganglion dalam rectum atau bagian rektosigmoid Colon. Dan ketidak adaan ini menimbulkan keabnormalan atau tidak adanya peristaltik serta tidak adanya evakuasi usus spontan (Betz, Cecily & Sowden : 2002).
Penyakit Hirscprung (megacolon anganglionik congenital) adalah anomali congenital yang mengakibatkan obstruksi mekanik karena ketidakadekuatan motilitas sebagian dari usus. ( Wong, 2003 )
Penyakit hirschprung adalah suatu kelainan tidak adanya sel ganglion parasimpatis pada usus, dapat dari kolon sampai usus halus ( Ngastiyah,2005:219)
Jadi megakolon atau hirschprung adalah kelainan tidak adanya sel ganglion dalam rectum atau bagian rektosigmoid, namun pada intinya sama yaitu penyakit yang disebabkan oleh obstruksi mekanis yang disebabkan oleh tidak adekuatnya motilitas pada usus sehingga tidak ada evakuasi usus spontan dan tidak mampunya spinkter rectum berelaksasi.

B.       Klasifikasi Hirschprung
       Penyakit Hirscprung tidak adanya sel ganglion dalam rectum dan sebagian tidak ada dalam colon.
Berdasarkan panjang segmen yang terkena, dapat dibedakan 2 tipe yaitu :
1.         Penyakit Hirscprung segmen pendek
Segmen agangkionosis mulai dari anus sampai sigmoid
2.    Penyakit Hirscprung segmen panjang
Kelainan dapat melebihi sigmoid, bahkan dapat mengenai seluruh kolon atau usus halus. (Ngastiyah, 1997)
C.       Etiologi
Penyebab dari Hirschprung yang sebenarnya belum diketahui, tetapi Hirschsprung atau Mega Colon diduga terjadi karena :
1.    Faktor genetik dan lingkungan, sering terjadi pada anak dengan Down syndrom.
2.    Kegagalan sel neural pada masa embrio dalam dinding usus, gagal eksistensi, kranio kaudal pada myentrik dan sub mukosa dinding plexus.
3.    Aganglionis parasimpatis yang disebabkan oleh lesi primer, sehingga terdapat ketidakseimbangan autonomik.

D.       Patofisiologi
Kongenital aganglionic Mega Colon menggambarkan adanya kerusakan primer dengan tidak adanya sel ganglion pada dinding sub mukosa kolon distal. Segmen aganglionic hampir selalu ada dalam rectum dan bagian proksimal pada usus besar. Ketidakadaan ini menimbulkan keabnormalan atau tidak adanya peristaltik dan tidak adanya evakuasi usus spontan serta spinkter rectum tidak dapat berelaksasi sehingga mencegah keluarnya feses secara normal yang menyebabkan adanya akumulasi pada usus dan distensi pada saluran cerna. Bagian proksimal sampai pada bagian yang rusak pada Mega Colon.
(Cecily Betz & Sowden, 2002:196).
Berdasarkan panjang segmen yang terkena dapat dibedakan 2 tipe yaitu :
1.    Penyakit Hischprung segmen pendek
Segmen agangilonosis mulai dari anus sampai sigmoid.
2.     Penyakit hischprung segmen panjang
      Daerah agangilonosis dapat melebihi sigmoid malahan dapat mengenai seluruh kolon sampai usus halus. 
a.         Persarafan parasimpatik colon didukung oleh ganglion. Persarafan parasimpatik yang tidak sempurna pada bagian usus yang aganglionik mengakibatkan peristaltic abnormal sehingga terjadi konstipasi dan obstruksi
b.         Tidak adanya ganglion disebabkan kegagalan dalam migrasi sel ganglion selama perkembangan embriologi. Karena sel ganglion tersebut bermigrasi pada bagian kaudal saluran gastrointestinal ( rectum) kondisi ini akan memperluas hingga proksimal dari anus.
c.         Semua ganglion pada intramural plexus dalam usus berguna untuk control kontraksi dan relaksasi peristaltic secara normal
d.        Penyempitan pada lumen usus, tinja dan gas akan terkumpul dibagian proksimal dan terjadi obstruksi dan menyebabkan di bagian colon tersebut melebar ( megacolon)

  
E.        Pathway


F.        Manifestasi Klinis
Bayi baru lahir tidak bisa mengeluarkan Meconium dalam 24 – 28 jam pertama setelah lahir. Tampak malas mengkonsumsi cairan, muntah bercampur dengan cairan empedu dan distensi abdomen. (Nelson, 2000 : 317).
Gejala Penyakit Hirshsprung adalah obstruksi usus letak rendah, bayi dengan Penyakit Hirshsprung dapat menunjukkan gejala klinis sebagai berikut. Obstruksi total saat lahir dengan muntaah, distensi abdomen dan ketidakadaan evakuasi mekonium. Keterlambatan evakuasi meconium diikuti obstruksi konstipasi, muntah dan dehidrasi. Gejala rigan berupa konstipasi selama beberapa minggu atau bulan yang diikuti dengan obstruksi usus akut. Konstipasi ringan entrokolitis dengan diare, distensi abdomen dan demam. Adanya feses yang menyemprot pas pada colok dubur merupakan tanda yang khas. Bila telah timbul enterokolitis nikrotiskans terjadi distensi abdomen hebat dan diare  berbau busuk yang dapat berdarah.
( Nelson, 2002 : 317 ).
1.         Neonatal
a.         Kegagalan pengeluaran mekonium (lebih dari 24 jam)
b.         Distensi abdomen
c.         Karena adanya obstruksi usus letak rendah
d.        Obstipasi
e.         Muntah yang berwarna hijau
2.    Infant
a.         Kegagalan dalam pertumbuhan berat badan
b.         Konstipasi
c.         Distensi abdomen
d.        Adanya suatu periode diare dan muntah
e.         Kadang muncul tanda enterokolitis seperti diare, demam berdarah, letargi
3.    Childhood
a.         Konstipasi
b.         Fases berbau menyengat seperti karbon
c.         Distensi abdomen
d.        Masa feses teraba
e.         Anak biasanya punya nafsu makan yang buruk

G.       Pemeriksaan Penunjang
1.         Pemeriksaan colok anus
Pada pemeriksaan ini, jari akan merasakan jepitan dan pada waktu ditarik akan dihubungkan dengan keluarnya udara dan mekonium atau tinja yang menyemprot.
2.         Pemeriksaan Diagnostik
a.         Foto polos abdomen
Pada penyakit hirscprung neonatus terlihat gambaran obstruksi usus pada letak rendah dan daerah pelvis terlihat kosong tanpa udara.
b.         Foto enema barium
Pemeriksaan ini ditemukan :
1)        Darah transisi dengan perubahan dari segmen sempit ke segmen dilatasi
2)         Gambaran kontraksi usus yang tidak teratur di bagian yang menyempit
3)        Enterokolitis pada segmen yang melebar
4)        Terdapat retensi barium setelah 24-28 jam




H.       Penatalaksanaan
1.         Penatalaksanaan medis dan bedah
Bila diagnosis sudah ditegakkan, pengobatan alternative adalah operasi berupa pengangkatan segmen usus aganglion, diikuti dengan pengembalian kontinuitas usus. Tetapi bila belum dapat dilakukan operasi biasanya merupakan tindakan sementara dipasang pipa rectum, dengan atau tanpa dilakukan pembiasaan dengan air garam fisiologis secara teratur.
Penatalaksaan operasi adalah untuk memperbaiki portion aganglionik di usus besar untuk membebaskan dari obstruksi dan mengembalikan motilitas usus besar sehingga normal dan juga fungsi spinkter ani internal.
Ada dua tahapan dalam penatalaksanaan medis yaitu :
a.         Temporari ostomy dibuat proksimal terhadap segmen aganglionik untuk melepaskan obstruksi dan secara normal melemah dan terdilatasinya usus besar untuk mengembalikan ukuran normalnya.
b.        Pembedahan koreksi diselesaikan atau dilakukan lagi biasanya saat berat anak mencapai sekitar 9 Kg ( 20 pounds ) atau sekitar 3 bulan setelah operasi pertama (  Betz Cecily & Sowden 2002 : 98 )
Ada beberapa prosedur pembedahan yang dilakukan seperti Swenson, Duhamel, Boley & Soave. Prosedur Soave adalah salah satu prosedur yang paling sering dilakukan terdiri dari penarikan usus besar yang normal bagian akhir dimana mukosa aganglionik telah diubah ( Darmawan K 2004 : 37 ) \
2.         Penatalaksanaan perawat
Perhatikan perawatan tergantung pada umur anak dan tipe pelaksanaanya bila ketidakmampuan terdiagnosa selama periode neonatal, perhatikan utama antara lain :
a.         Membantu orang tua untuk mengetahui adanya kelainan kongenital pada anak secara dini
b.         Membantu perkembangan ikatan antara orang tua dan anak
c.         Mempersiapkan orang tua akan adanya intervensi medis ( pembedahan )
d.        Mendampingi orang tua pada perawatan colostomy setelah rencana pulang (FKUI, 2000:1135 )

I.          Pengkajian yang Dapat Dilakukan
1.         Pengkajian Preoperatif
a.         Pemeriksaan fisik
1)        Abdomen
a)        Ukuran lingkaran abdomen.
b)        Amati adanya distensi abdomen
c)        Dengarkan bising usus (4 kuadran)
d)       Perkusi abdomen
e)        Palpasi abdomen
f)         Amati riwayat konstipasi dan diare

b.         Kaji status nutrisi
1)            Timbang berat badan
2)            Amati adanya muntah
3)            Kaji kekuatan obat

c.         TTV
1)        Ukur suhu badan (umumnya terjadi peningkatan)
2)        Ukur frekuensi pernafasan (terjadinya takikardi dan dispnea)
3)        Ukur tekanan darah
4)        Ukur nadi (terjadi takikardi)
2.        Pengkajian pasca operasi
a.         Kaji integritas kulit meliputi tekstur, warna, suhu, kulit
b.        Amati tanda-tanda infeksi
c.         Amati apakah ada kebocoran anastomisis
d.        Amati pola eliminasi

    J.      Diagnosa yang Mungkin Muncul
1.      Pre operasi
a.         Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi paru
b.         Konstipasi berhubungan dengan obstruksi karena aganglion pada usus
c.    Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah
d.   Resiko kekurangan volume cairan b.d muntah, diare dan pemasukan terbatas karena mual.
2.      Post Operasi
a.    Nyeri berhubungan dengan insisi pembedahan
b.    Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur pembedahan dan adanya insisi
c.    Cemas keluarga berhubungan dengan kurang pengetahuan keluarga mengenai pengobatan dan perawatan post operasi


K.    INTERVENSI
Pre operasi
No
Diagnosa
Tujuan dan Kriteria hasil
Intervensi
1
Pola nafas tidak efektif b.d penurunan ekspansi paru
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam pola nafas berangsur efektif
NOC :
Respiratory Status

Kriteria Hasil :
1.    Frekuensi pernafasan normal
2.    Ekspansi dada optimal dan simetris
3.    Bernafas mudah
4.    Keadaan inspirasi
Respiratory Monitoring
1.     Monitor frekuensi, ritme dan kedalaman pernafasan
2.     Catat pergerakan dada, kesimetrisan, penggunaan otot tambahan
3.     Monitor pola nafas seperti, bradipneu, takipneu, hiperventilasi
4.     Auskultasi suara pernafasan
Oxygen terapy
1.    Pertahankan jalan nafas yang paten
2.    Pertahankan posisi pasien dengan kepala lebih tinggi
3.    Siapkan peralatan oksigenasi
4.    Monitor dan atur aliran oksigen
2
Konstipasi b.d defek persyarafan terhadap aganglion usus
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2 x 24 jam konstipasi berangsur teratasi
NOC :
Bowel Elimination

Kriteria Hasil :
1.    Pola eliminasi dalam batas normal
2.    Warna feses dalam batas normal
3.    Bau feses tidak menyengat
4.    Konstipasi tidak terjadi
5.    Ada peningkatan pola eliminasi yang lebih baik
Bowel Irigation
1.    Tetapkan alasan tindakan membersihkan saluran pencernaan
2.    Pilih pemberian enema yang tepat
3.    Jelaskan prosedur pada pasien
4.    Monitor efek samping dari tindakan pengobatan
5.    Catat perkembangan baik
6.    Observasi tanda vital dan bising usus setiap 2 jam sekali
7.    Observasi pengeluaran feces per rektal – bentuk, konsistensi, jumlah
8.    Konsultasikan dengan dokter rencana pembedahan
3
Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual muntah
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1 x 24 jam mual muntah dapat teratasi sehingga resiko tidak terjadi

NOC :
Status Nutrisi

Kriteria Hasil :
1.     Berat badan pasien sesuai umur
2.     Stamina
3.     Tenaga
4.     Kekuatan menggenggam
5.     Penyembuhan jaringan
6.     Daya tahan tubuh
7.     Konjungtiva tidak anemis
8.     Pertumbuhan
Management Nutrisi
1.    Kaji riwayat makanan yang biasa dimakan dan kebiasaan makan
2.    Timbang berat badan
3.    Anjurkan ibu untuk tetap memberikan asi rutin
4.    Kolaborasikan dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan

Monitoring Nutrisi
1.    Monitor turgor kulit
2.    Monitor mual dan muntah
3.    Monitor intake nutrisi
4.    Monitor pertumbuhan dan perkembangan anak
4
Resiko kekurangan volume cairan b.d muntah dan pemasukan terbatas karena mual
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1 x 24 jam resiko kekurangan cairan dapat diatasi
NOC :
Fluid balaKriteria Hasil :
1.     Keseimbangan intake dan out put 24 jam
2.     Berat badan stabil
3.     Mata tidak cekung
4.     Membran mukosa lembab
5.     Kelembaban kulit normal
NIC :
Fluid Management
1.     Timbang popok jika diperlukan
2.     Pertahankan intake dan output yang akurat
3.     Monitor status hidrasi
4.     Monitor vital sign
5.     Kolaborasikan pemberian cairan IV
6.     Dorong masukan oral seperti ASI

Post Operasi
5
Nyeri b.d insisi pembedahan
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 4 x 24 jam nyeri berangsur teratasi
NOC :
Pain Level

Kriteria Hasil :
1.    Mengenali faktor dan penyebab nyeri
2.    Menggunakan metode pencegahan nyeri
3.    Mengenali gejala nyeri
NIC :
Pain Management
1.     Kaji secara komprehensif tentang nyeri meliputi : lokasi , karakteristik dan onset, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau beratnya nyeri dan faktor – faktor presipitasi
2.     Observasi isyarat – isyarat non verbal dari ketidaknyamanan, khususnya dalam ketidakmampuan untuk komunikasi secara efektif
3.     Gunakan komunikasi terapeutik agar pasien dapat mengekspresikan nyeri
4.     Kontrol faktor – faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien terhadap ketidaknyamanan (ex : temperatur ruangan , penyinaran)
5.     Ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologi (misalnya : relaksasi, guided imagery, distraksi, terapi bermain, terapi aktivitas)
Analgetik Administration
1.     Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum pemberian obat.
2.     Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis dan frekuensi
3.     Pilih analgetik yang diperlukan / kombinasi dari analgetik ketika pemberian lebih dari satu.
4.     Tentukan pilihan analgetik tergantung tipe dan beratnya nyeri.
6
Resiko infeksi b.d insisi luka post operasi dan imunitas menurun
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan resiko infeksi dapat teratasi dan luka sembuh sempurna
NOC :
Imune Status

Kriteria Hasil :
1.    Pasien bebas dari gejala infeksi
2.    Mengetahui proses penularan penyakit
3.    Menunjukan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
4.    Menunjukan perilaku hidup sehat

NIC :
Infection Protection
1.    Monitor tanda gejala infeksi sistemik dan lokal
2.    Monitor kerentanan terhadap infeksi
3.    Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas dan drainase
4.    Inspeksi kondisi luka / insisi bedah
5.    Dorong masukan nutrisi yang cukup
6.    Anjurkan banyak istirahat
7
Cemas keluarga b.d kurang pengetahuan keluarga mengenai pengobatan dan perawatan luka
Tujuan :
setelah dilakukan tindakan keperawatan 1 x 24 jam, kecemsan keluarga berkurang dan termotivasi untuk membentu merawat an Kagar cepat sembuh serta dapat merawat di rumah.
Kriteria Hasil :
1.     Keluarga klien mampu mengungkapkan kecemasan
2.     Keluarga klien mengungkapkan keinginan belajar ikut merawat klien
3.     Keluarga klien memahami tujuan pengobatan dan perawatan klien
4.     Keluarga klien mampu melakukan perawatan dirumah.
1.     Bina hubungan saling percaya
2.     Berikan kesempatan keluarga klien untuk mengungkapkan keinginan dan harapan
3.     Pertahankan kondisi senyaman mungkin
4.     Berikan penjelasan mengenai prosedur pengobatan, perawatan
5.     Berikan penjelasan, pelatihan bagaimana perawatan klien dirumah dari perawatan kolostomi, menjaga kebersihan, dan Diit tepat pada An K

0 komentar :

Poskan Komentar

 

Blogger news

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Blogroll

Widget edited by super-bee

About